^Back To Top
foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Kemiri

Kemiri (Aleurites moluccana) adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak dan rempah-rempah. Tumbuhan ini masih sekerabat dengan singkong

dan termasuk dalam suku Euphorbiaceae. Dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai candleberry, indian walnut, serta candlenut. Pohonnya disebut sebagai varnish tree atau kukui nut tree. Minyak yang diekstrak dari bijinya berguna dalam industri untuk digunakan sebagai bahan campuran cat. Kemiri berasal dari Maluku dan memiliki beberapa nama, misalnya “Kereh” (Aceh), “Kemili” (Gayo), “Tondeh” (Minangkabau), “Kemiling” (Lampung), “Buwakare” (Nisa), “Muncang” (Sunda), “Derekan” (Jawa – Bali), dan “Mere” (Madura).

Kemiri terutama ditanam untuk bijinya yang setelah diolah sering digunakan dalam masakan Indonesia dan masakan Malaysia. Di Pulau Jawa, kemiri juga dijadikan sebagai saus kental yang dimakan dengan sayuran dan nasi. Kemiri memiliki kesamaan dalam rasa dan tekstur dengan macadamia yang juga memiliki kandungan minyak yang hampir sama. Kemiri juga dibakar dan dicampur dengan pasta dan garam untuk membuat bumbu masak khas Hawaii yang disebut inamona. Inamona adalah bumbu masak utama untuk membuat poke tradisional Hawaii.

Inti biji kemiri mengandung 60–66% minyak. Di Hawaii, pada masa kuno, kemiri (di sini disebut kukui) dibakar untuk menghasilkan cahaya. Kemiri disusun berbaris memanjang pada sehelai daun palem, dinyalakan salah satu ujungnya, dan akan terbakar satu demi satu setiap 15 menit atau lebih. Ini juga berguna sebagai alat pengukur waktu. Misalnya, seseorang bisa meminta orang lain untuk kembali ke rumah sebelum kemiri kedua habis terbakar. Di Tonga, sampai sekarang, kemiri yang sudah matang (dinamai tuitui) dijadikan pasta (tukilamulamu), dan digunakan sebagai sabun dan shampoo.

Penanaman kemiri modern kebanyakan hanya untuk memperoleh minyaknya. Dalam setiap penanaman, masing-masing pohon akan menghasilkan sekitar 30–80 kg kacang kemiri, dan sekitar 15 sampai 20% dari berat tersebut merupakan minyak yang didapat. Kebanyakan minyak yang dihasilkan digunakan secara lokal, tidak diperdagangkan secara internasional. 

Minyak kemiri terutama mengandung asam oleostearat. Minyak yang lekas mengering ini biasa digunakan untuk mengawetkan kayu, sebagai pernis atau cat, melapis kertas agar anti-air, bahan sabun, bahan campuran isolasi, pengganti karet, dan lain-lain. Minyak kemiri ini berkualitas lebih rendah daripada tung oil, minyak serupa yang dihasilkan oleh Vernicia fordii (sin. Aleurites fordii) dari Cina.

Meskipun dapat menghasilkan kayu yang berukuran besar, kayu kemiri dianggap terlalu ringan dan tidak awet sebagai kayu bangunan. Kayu ini berwarna keputihan dan amat ringan (BJ 0.35), serta amat mudah diserang jamur atau serangga. Kayu kemiri yang melapuk sering ditumbuhi jamur kuping (Auricularia). Kayu kemiri dapat digunakan untuk membuat furnitur, peralatan kecil, korek api, dan juga untuk pulp. Di Jakarta dulu, kayu kemiri sering juga digunakan untuk membuat perabotan rumah tangga. Di Hawaii, kayu kemiri kadang-kadang digunakan untuk membuat sampan sederhana atau paling-paling untuk kayu bakar yang bermutu rendah.

Beberapa bagian dari tanaman ini sudah digunakan dalam obat-obatan tradisional di daerah-daerah pedalaman. Minyaknya digunakan sebagai bahan tambahan dalam perawatan rambut (untuk menyuburkan rambut). Bijinya dapat digunakan sebagai pencahar. Di Jepang, kulit kayunya telah digunakan untuk tumor. Di Sumatera, bijinya dibakar dengan arang, lalu dioleskan di sekitar pusar untuk menyembuhkan diare. Di Jawa, kulit batangnya digunakan untuk mengobati diare atau disentri.

Kemiri juga sering ditanam sebagai pohon serbaguna, untuk menghijaukan lahan, sebagai peneduh di pekarangan, dan juga untuk pohon hias. Di Jawa, biji kemiri biasa dijadikan sebagai bahan permainan untuk diadu kekerasan tempurungnya.

Biji kemiri mengandung bahan beracun dengan kekuatan ringan. Karena itu sangat tidak dianjurkan mengonsumsi biji kemiri secara mentah. Penggunaan kemiri harus diawali dengan menyangrai (memanaskan tanpa minyak atau air) hingga biji hangat. Pemanasan akan menguraikan toksin.

Kemiri sering digunakan oleh para ibu didapur sebagai penyedap masakan. Pohon kemiri memiliki tinggi 10 - 40 meter daunnya bertangkai panjang, helai daunnya berbentuk bulat telur, bentuk lanset dan hanya pada bagian pangkal bertulang daun menjari.

Buahnya buah batu, bentuknya bulat telur bola yang lebar dan berdaging, bijinya berjumlah 1 – 2 dengan kulit biji yang sangat keras, berbentuk bulat agak gepeng, warnanya hitam karena penyerbukan dan berlipat. Jika biji kulit dibuka maka didalamnya terdapat kemiri berwarna krem.
Berikut adalah beberapa khasiat tanaman herbal kemiri antara lain untuk mengobati buang air besar mengandung darah, diare, disentri, sakit perut, sembelit, demam, sariawan, sakit gigi, bisul, kapalan, rambut rontok, dan menyuburkan rambut.
 
Cara pemakaiannya :
  • Sebagai obat herbal buang air besar berdarah : 20 gr kulit batang kemiri direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc. Saring. Minum airnya hangat-hangat.
  • Sebagai obat herbal disentri : 10 gr batang kemiri direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, saring dan airnya minum hangat-hangat.
  • Sebagai obat herba diare : 20 gr kulit batang kemiri segar ditumbuk halus lalu rebus dengan 600 cc air hingga tersisa setengahnya. Saring. Minum 2 x sehari.
  • Rambut rontok : 60 gr daun lidah buaya dikupas kulitnya, ditambah 30 gr mangkokan, ditambah 30 gr daun waru muda kemudian haluskan semua bahan, tambahkan 50 gr minyak kemiri hangat, aduk rata lalu dioleskan pada kulit kepala dan rambut hingga rata. Diamkan beberapa saat, setelah itu bilas hingga bersih.
  • Sebagai penyubur rambut : 6 buah kemiri ditumbuk halus, tambahkan air secukupnya dan dimasak hingga mengeluarkan minyak. Gosokkan minyak tersebut kekulit kepala dan rambut hingga merata. Lakukan 3 x dalam seminggu.
  • Sebagai obat herbal sakit gigi : Gunakan 3 tetes daun kemiri, oleskan pada bagian yang sakit. Lakukan sebanyak 3 x sehari.
  • Sebagai obat herbal demam : Gunakan minyak kemiri secukupnya, tambahkan 15 gr akar pulutan. Direbus dengan air secukupnya hingga mendidih. Minum ramuan ini saat masih hangat.