^Back To Top
foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

DUKU

DUKU (Lansium domesticum) Duku merupakan tanaman asli Asia Tenggara. Duku banyak pula ditemukan di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Duku terbagi menjadi beberapa jenis yang kita kenal, yaitu duku, langsat dan kokosan,

sedangkan jenis – jenis duku yang banyak ditanam di Indonesia sendiri antara lain duku komering, duku matesih, dan duku condet.

Tanaman duku umumnya tumbuh di wilayah dengan curah hujan tinggi dan merata sepanjang tahun dengan curah hujan antara 1.500 – 2.500 mm/tahun. Ketinggian daerah yang sesuai untuk pertanaman duku adalah tidah lebih dari 650 meter di atas permukaan laut.

Taman Wisata Mekarsari memiliki beberapa koleksi tanaman duku, langsat maupun kokosan. Namun karena tipe pertumbuhan tanaman yang sangat lambat, beberapa tanaman belum mulai memasuki usia produktif. Tahun 2012 ini, tanaman duku di Mekarsari mulai berbunga setelah ± 15 tahun setelah tanam. Koleksi tanaman duku ini dapat ditemukan di areal kebun Blok A, dekat dengan Taman Konservasi Rusa Tutul milik Mekarsari.

Memupuk dan Memanen Duku

Pertumbuhan pohon duku sangat lamban. Dalam kondisi yang sangat optimal, umur 10 sd. 15 tahun baru akan mulai berbuah. Dalam kondisi yang kurang bergitu menguntungkan, pada umur-umur tersebut, tanaman baru akan mencapai ketinggian antara 3 sd. 5 m. dan belum berbuah. Tanaman yang terhambat pertumbuhannya tersebut, baru akan berbuah pada umur di atas 20 sd. 25 tahun. Tetapi tanaman duku akan dapat mencapai umur produktif ratusan tahun.

Para petani Thailand, memiliki resep sederhana untuk memupuk tanaman duku mereka. Pada tiap peningkatan diameter batang 10 cm, dosis pupuknya ditambah 1 kg. Atau tiap peningkatan diameter batang 1 cm. dosisnya tambah 0,1 kg. Metode lain untuk melakukan pemupukan adalah, dengan menghitung asumsi hasil panen atau pengalaman panen optimal.

Pola perdagangan duku di Indonesia adalah dengan sistem "tebasan". Pedagang pengumpul datang ke pemilik pohon duku, memberi uang muka lalu nanti pada saat panen melakukan pemetikan buah sendiri dan melunasi pembayaran. Sebenarnya pemetikan buah yang benar adalah dengan memperkirakan tingkat kemasakan buah. Apabila tingkat kemasakannya telah mencapai 80 %, maka buah sudah bisa dipetik dengan cara menggunting tangkai buah pada bagian pangkalnya.

(Sumber: Memupuk dan Memanen Duku; F. Rahardi; Business News)

Perbanyakan Tanaman Duku

Duku diperbanyak secara generative maupun vegetative. Perbanyakan generative dengan menggunakan biji, sedangkan perbanyakan vegetative dengan mennggunakan stek, cangkok maupun sambung pucuk. Penanaman melalui biji, harus ditanam langsung dalam kondisi segar, karena biji duku akan mengalami kehilangan daya kecambahnya apabila dibiarkan mongering. Kecambah dari biji akan tumbuh setelah 2 – 3 minggu setelah semai dan akan terus tumbuh namun sangat lambat pertumbuhannya. Tanaman duku yang baru ditanam, memerlukan peneduh, karena tanaman ini tidak tahan dengan kekeringan yang berkepanjangan dan sinar matahari penuh pada masa awal pertumbuhannya.

(Sumber: http://www.montosogardens.com/lansium_domesticum.htm , 17 Mei 2012)

Kandungan Gizi dan Senyawa lainnya pada Buah Duku

Dalam 100 gram buah duku terkandung: 63,00 kalori, 1 gram protein, 0,20 gram lemak, 16,10 mg karbohordtar, 18 mg kalsium, 9 mg fosfor, 0,05 mg vitamin B1, 9 mg vitamin C dan 82 gram air.

Kandungan senyawa lain di dalam buah duku antara lain:

  1. Serat pangan, berguna untuk membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan, menekan angka kolesterol dalam darah, mencegah kanker kolon, dan membersihkan tubuh dari radikal bebas penyebab kanker.
  2. Saponin, digunakan sebagai bahan pencuci rambut.

(Sumber: Kandungan Gizi dan Manfaat Buah – Buahan Pohon; Direktorat Budidaya Tanaman Buah, 2010)

Manfaat

Duku terutama ditanam untuk buahnya, yang biasa dimakan dalam keadaan segar. Ada pula yang mengawetkannya dalam sirup dan dibotolkan. Kayunya keras, padat, berat dan awet, sehingga kerap digunakan sebagai bahan perkakas dan konstruksi rumah di desa, terutama kayu pisitan.

Beberapa bagian tanaman digunakan sebagai bahan obat tradisional. Biji duku yang pahit rasanya, ditumbuk dan dicampur air untuk obat cacing dan juga obat demam. Kulit kayunya dimanfaatkan sebagai obat disentri dan malaria, sementara tepung kulit kayu ini dijadikan tapal untuk mengobati gigitan kalajengking. Kulit buahnya juga digunakan sebagai obat diare; dan kulit buah yang dikeringkan, dapat dibakar sebagai pengusir nyamuk. Kulit buah langsat terutama, dikeringkan dan diolah untuk dicampurkan dalam setanggi atau dupa.

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Duku, 17 Mei 2012)

Duku Dharmasraya Potensi Buah Komersial

Komoditas duku mempunyai nilai ekonomi tinggi, sehingga usaha agribisnisnya dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat, karena harga jualnya yang tinggi baik di pasar dalam negeri maupun untuk ekspor. Total produksi secara nasional 228.817 ton, dan menempati urutan ke 12 dari produksi buah-buahan di Indonesia (BPS, 2010).

Pada tahun 2009 Kabupaten Dharmasraya jumlah populasi tanaman duku sebanyak 64.532 pohon, dengan produksi mencapi 441,00 ton (BPS, 2010a), dan semua tanaman duku merupakan kultivar lokal yang benihnya berasal dari biji dan umur tanaman berkisar 25 – 75 tahun. Komoditi duku mempunyai potensi besar dalam peningkatan ekonomi masyarakat setempat khususnya, secara ekonomis, letak daerah sangat strategis karena dilalui oleh jalan lintas sumatera dan dukungan daerah yang cukup luas serta akses pemasaran ke daerah tetangga cukup dekat.

(Sumber: http://balitbu.litbang.deptan.go.id/ind/index.php/berita-mainmenu-26/13-info-aktual/321-duku-dharmasraya-potensi-buah-nasional, 17 Mei 2012)